welcome to my blog

maaf kalo isinya jelek... :-)
Tampilkan postingan dengan label Teori Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Akuntansi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

EFISIENSI PASAR MODAL


1.      Definisi
            Emery dan Finnerty menyebutkan bahwa konsep efisiensi pasar modal adalah efek samping dari penerapan investor terhadap prinsip-prinsip keuangan (principles of finance) dalam pasar modal. Dalam setiap aspek kehidupan, menurut keduanya, setiap orang memiliki suatu prinsip umum yang akan diterapkan termasuk dalam masalah keuangan. Keduanya mendefinisikan konsep efisiensi pasar modal sebagai harga pasar dari sekuritas yang diperdagangkan secara reguler di pasar modal mencerminkan seluruh informasi yang ada dan melakukan penyesuaian secara utuh dan cepat terhadap informasi baru.
Seperti dijelaskan oleh Jogiyanto, setidaknya ada empat definisi tentang efisiensi pasar modal.
            Pertama, efisiensi pasar diukur seberapa jauh harga-harga sekuritas menyimpang dari nilai instrinsiknya (Beaver,1989). Konsep ini berawal dari praktek para analis sekuritas yang mencoba menemukan sekuritas dengan harga yang kurang benar (mispriced). Untuk itu pasar modal efisien yaitu pasar modal dimana harga pasarnya tidak menyimpang dari nilai instrinsiknya.
            Kedua, efisiensi pasar diukur berdasarkan akurasi dari ekspektasi harganya (Fama, 1970). Fama mendefinisikan bahwa pasar modal efisien yaitu jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara penuh informasi yang tersedia. Konsep ini mendapat kritik dari Beaver (1989). Beaver menyebut bahwa proses perubahan harga karena adanya informasi baru sebagai sesuatu yang sirkular. Karenanya efisiensi pasar tidak saja didasarkan pada ada tidaknya perubahan harga karena informasi baru, tetapi seberapa cepat dan tepat perubahan tersebut juga menentukan efisien tidaknya sebuah pasar. Konsep Fama tentang akurasi harga juga mendapat kritik, sehingga Fama sendiri menyadari bahwa konsep tersebut memerlukan sebuah benchmark untuk menunjukkan akurasi dari harga yang diharapkan. Fama memperjelas konsepnya dengan melakukan uji gabungan model ekuilibrium capital asset pricing model (CAPM) sehingga efisiensi pasar dapat diuji.
            Ketiga, efisiensi pasar didasarkan pada distribusi dari informasi pasar yang tersedia (Beaver,1989). Jika Fama (1970) lebih menekankan pada akurasi dari harga pasar yang diharapkan dengan asumsi bahwa semua investor mempunyai pengharapan yang sama, maka Beaver (1989) lebih menekankan pada distribusi informasi. Pasar dikatakan efisien jika harga yang terjadi setelah informasi diterima oleh pelaku pasar sama dengan harga yang akan terjadi jika setiap orang mendapatkan informasi tersebut. Karenanya efisiensi pasar terjadi jika dan hanya jika harga-harga bertindak seakan-akan setiap orang mengamati sistem informasi tersebut.
            Dan keempat, efisiensi pasar didasarkan pada proses dinamik (Jones, 1995). Proses dinamik mempertimbangkan distribusi informasi yang tidak simetrik (asymmetric information) dan proses bagaimana harga akan menyesuaikan terhadap informasi yang tidak simetris tersebut. Informasi tidak simetris adalah suatu kondisi yang menunjukkan sebagian investor mempunyai informasi dan yang lainnya tidak mempunyai (Jones, 2000). Pasar dikatakan efisien jika harga-harga sekuritasnya secara cepat dan penuh mencerminkan informasi yang tersedia terhadap aktiva tersebut.
2.      Bentuk-Bentuk Efisiensi Pasar
            Secara umum efisiensi pasar dibagi menjadi dua yaitu external efficiency dan internal efficiency. External efficiency menunjukkan bahwa pasar berada dalam keadaan keseimbangan sehingga keputusan perdagangan saham atas informasi yang tersedia di pasar tidak bisa memberikan tingkat keuntungan di atas keuntungan keseimbangan. Sedangkan internal efficiency adalah bahwa pasar modal tidak saja memberikan harga yang tepat tetapi juga memberikan berbagai jasa yang diperlukan oleh para pembeli dan penjual dengan biaya yang serendah mungkin.
            Bentuk efisiensi pasar dapat juga didasarkan pada ketersediaan informasi (informationally efficient market) atau kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan analisis dari informasi yang tersedia (decisionally efficient market). Pembagian ini didasarkan adanya dua jenis informasi dalam pasar modal yaitu informasi yang langsung dapat dipakai untuk mengambil keputusan dan informasi yang harus diolah terlebih dahulu. Sehingga efisiensi pasar tidak saja didasarkan pada ketersediaan informasi, tetapi juga pada ketepatan pelaku pasar mengambil keputusan atas informasi tersebut.
Berdasarkan ketersediaan informasi, Fama (1970) membagi efisiensi pasar modal menjadi tiga bentuk yaitu:
1)      Bentuk lemah (weak form), Bentuk lemah berarti harga sekuritas mencerminkan secara penuh informasi masa lalu (past price changes). Informasi masa lalu merupakan informasi yang sudah terjadi. Bentuk lemah ini berkaitan dengan teori langkah acak (random walk theory). Dimana data masa lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang. Artinya untuk menentukan harga sekuritas dalam pasar bentuk lemah, informasi masa lalu seharusnya sudah tercermin pada harga sekuritas yang berlaku (current price) dan harga sekuritas di masa mendatang tidak bisa ditentukan. Untuk menguji bentuk lemah, perubahan harga di masa mendatang seharusnya tidak berhubungan dengan perubahan harga sekuritas di masa lalu. Atau suatu pasar dikatakan efisien bentuk lemah jika harga sekarang sudah mencerminkan seluruh data masa lalu. Karenanya dalam bentuk lemah, data masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga di masa mendatang.
2)      Bentuk Semi-kuat(semi strong form), Bentuk semi kuat berarti harga sekuritas secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan (public information) termasuk yang ada dalam laporan keuangan seperti pendapatan, dividen, pengumuman stock split, pengembangan produk baru, kesulitan keuangan, maupun perubahan data-data akuntansi perusahaan (Jones, 2000, h.315). Informasi publik dapat dibagi menjadi tiga yaitu informasi baru yang menyangkut satu emiten, beberapa emiten (industri), atau seluruh emiten. Pengujian atas bentuk semi-kuat adalah pengujian atas kecepatan harga sekuritas melakukan penyesuaian (speed of adjustment) terhadap informasi baru di pasar modal. Dimana bentuk semi-kuat terjadi jika investor tidak bisa memperoleh return di atas rata-rata risk-adjusted return secara konsisten setelah pengumuman informasi tersebut. Jika ternyata ada selisih waktu untuk melakukan penyesuaian terhadap pengumuman tersebut, dan investor dapat memanfaatkan untuk mendapatkan abnormal return, bentuk pasar modal yang terjadi berarti tidak secara utuh efisien dalam bentuk semi-kuat.
3)      Bentuk kuat (strong form), Bentuk kuat berarti harga sekuritas mencerminkan seluruh informasi baik yang tersedia maupun yang tidak tersedia di pasar modal (public and private information). Dimana investor tidak bisa mendapatkan abnormal return dengan memanfaatkan berbagai informasi baik yang tersedia maupun yang tidak tersedia secara umum. Sehingga bentuk kuat dapat menghilangkan kasus-kasus insider trading yang memanfaatkan informasi orang dalam.
            Ketiga bentuk efisiensi di atas bersifat kumulatif seperti dijelaskan pada Gambar 2.4. Hal ini mengandung maksud bahwa suatu pasar efisien dalam bentuk kuat berarti juga efisien dalam bentuk semi-kuat dan lemah. Pasar efisien dalam bentuk semi-kuat berarti juga efisien dalam bentuk lemah. Namun hal itu tidak terjadi sebaliknya. Dimana jika pasar efisien dalam bentuk lemah belum tentu efisien dalam bentuk semi-kuat.
3.      Sebab-Sebab Pasar Efisien
            Ada sebuah ilustrasi menarik dari Suad Husnan bahwa teori efisiensi pasar seperti halnya orang menjual barang antik melalui lelang. Dimana penjual tidak tahu berapa harga yang pantas terhadap barang tersebut, hasil lelang akan menghasilkan harga yang pantas untuk barang dimaksud. Namun untuk mendapatkan harga yang pantas tentu dibutuhkan beberapa syarat seperti lelang dilaksanakan secara kompetitif, jujur, tidak ada kerja sama antar peserta lelang, tidak ada biaya penawaran yang cukup berarti, dan mereka yang mengikuti lelang adalah cukup banyak, ahli, dan bersedia menawar. Dengan proses seperti itu, hasil lelang akan menemukan harga yang pantas atas barang yang dijual.
Begitu juga seperti lelang, menurut Jogiyanto (2000, h.375) efisiensi pasar modal hanya dapat terjadi jika beberapa kondisi di bawah ini terjadi: 
1.      Investor dalam pasar modal yang secara aktif melakukan analisa, penilaian, dan transaksi sekuritas berjumlah besar. Dan investor berlaku rasional dan berorientasi profit-maximizing. Sehingga investor hanya sebagai penerima harga (price takers), yang berarti bahwa investor seorang diri tidak dapat mempengaruhi harga dari suatu sekuritas. Harga ditentukan oleh demand dan supply yang ada di pasar modal.
2.      Informasi pasar tersedia secara luas bagi semua investor pada saat yang bersamaan dan biaya untuk memperoleh informasi tersebut murah.
3.      Informasi terjadi secara acak, sehingga investor tidak dapat memprediksi (mengantisipasi) kapan informasi baru terjadi.
4.      Investor bereaksi secara cepat dan penuh terhadap informasi baru, sehingga harga suatu sekuritas menyesuaikan secara cepat. Hal ini dapat terjadi jika pelaku pasar merupakan investor yang canggih, yang mampu memahami, dan menginterpretasikan informasi dengan baik dan cepat.
Sebaliknya jika keempat kondisi di atas tidak dipenuhi kemungkinan pasar tidak efisien. Beberapa hal yang membuat pasar modal tidak efisien yaitu :
1)      Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang dapat mempengaruhi harga.
2)      Biaya informasi mahal dan ada perbedaan akses terhadap informasi.
3)      Informasi yang terjadi dapat diprediksi dengan baik oleh pelaku pasar.
4)      Investor adalah individual yang lugas (naive investors) dan tidak canggih.
5)      Investor naif berarti kemampuannya terbatas di dalam memahami dan menginterprestasikan informasi yang diterima. Sedangkan yang tidak canggih seringkali melakukan keputusan investasi yang salah.

Sabtu, 17 Desember 2011

INCOME DAN PELAPORANNYA

1.      PENGERTIAN INCOME
            Yang dimaksud pertama kali konsep laba sebenarnya adalah para ekonomi, kemudian para profesi akuntan mengikutinya. Adam Smith menjelaskan bahwa laba sebagai jumlah yang dapat dikomsumsi tanpa menggerogoti modal atau kenaikan dalam kekayaan. Ekonomi Inggris yang juga pemenang nobel Sir John Hicks memperluas hal ini dengan mengatakan bahwa laba adalah jumlah yang dapat dikonsumsi seseorang selama periode waktu tertentu dan sama sejahteranya pada akhir periode.
            Dengan perkataan lain, laba menurut Smith dan Hicks adalah surplus sesudah pemeliharaan kesejahteraan, tetapi sebelum dikonsumsi. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut laba komperhensif. Laba komperhensif dimaknai sebagai kenaikan asset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik.

2.      PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN
            Laporan keuangan yang dihasilkan oleh pihak manajemen suatu perusahaan merupakan hasil akhir dari proses atau kegiatan-kegiatan akuntansi yang dilakukan perusahaan. Laporan keuangan dibuat untuk mempertanggungjawabkan kegiatan peusahaan terhadap pemilik dan memberi informasi mengenai posisi keuangan yang telah dicapai perusahaan. Laporan keuangan adalah suatu laporan tertulis yang merupakan bentuk pandangan secara wajar mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertangggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (IAI,2002).
            Melalui laporan keuangan itu, secara periodik dilaporkan informasi penting mengenai suatu perusahaan yang berupa : 
a.      Informasi mengenai sumber-sumber ekonomi, kewajiban dan modal perusahaan.
b.      Informasi mengenai perubahan-perubahan dalam sumber-sumber ekonomi netto atau kekayaan bersih (modal = Aktiva dikurangi kewajiban), yang timbul dari aktivitas usaha perusahaan dalam rangka memperoleh laba.
c.       Informasi mengenai hasil usaha perusahaan yang dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai dan membuat estimasi tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
d.      Informasi mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, yang disebabkan oleh aktivitas pembelanjaan dan investasi.
e.      Informasi penting lainnya yang berhubungan dengan laporan keuangan, seperti kebijaksanaan akutansi yang dianut oleh perusahaan. 
            Tujuan dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (IAI, 2002). mengklasifikasikan tujuan laporan keuangan sebagai berikut (Riahi dan Belkaoui, 2000 :126) :
a.      Tujuan umum, yaitu menyajikan laporan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima umum.
b.      Tujuan khusus, yaitu memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban serta informasi lainnya yang relevan.
c.       Tujuan kualitatif, sebagai berikut :
1.      Relevance : Memilih informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan dalam pengambilan keputusan.
2.      Understanability : Informasi yang disajikan bukan saja inormasi yang penting tetapi mudah untuk dimengerti oleh pemakainya.
3.      Variability : Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain.
4.      Timeliness : Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
5.      Comparability : Informasi akuntansi harus dapat dibandingkan, artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama untuk semua perusahaan.
6.      Completeness : Informasi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan layak bagi pemakai

Pemakai Laporan Keuangan
            Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang, investor potensial, karayawan, pemberi pinjaman (kreditor), pemasok (supplier), pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya dan masyarakat. Mereka menggunakan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Menurut (Harahap : 2002 :166) dalam Sandy Teguh Ariansyah (2006 : 12) pemakai laporan keuangan terdiri dari :
a.      Pemakai langsung :
1) Pemilik Perusahaan
2) Kreditur 
3) Pemasok 
4) Manajemen 
5) Fiskus (pajak)
6) Pegawai / Karyawan Perusahaan
7) Langganan 
b. Pemakai tak langsung :
1) Konsultan
2) Para Pesaing
3) Masyarakat Umum

3.      KONSEP-KONSEP INCOME
3.1  Konsep Laba dalam Semantik
            Konsep laba dalam semantic berkaitan dengan masalah makna apa yang harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada symbol atau elemen laba sehingga laba bermanfaat (usefull) dan bermakna (meaningfull) sebagai informasi.
            Makna semantic laba yang dikembangkan diatas akhirnya harus dapat dijabarkan dalam tataran sintaktik. Ini berarti konsep laba jarus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan prosedur akuntansi yang mantap dan objektif sehingga anggka laba dapat diukur dan disajikan dalam statement keungan. Salah satu bentuk penjabaran makna laba secara sintaktik adalah mendefinisi laba sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya. Tentang pendapatan, masalah teoritis pendapatan dan biaya adalah definisi dan pengukuran dalam arti luas. Definisi meupakan masalah pada tataran semantik. Pengukuran dalam arti luas yang meliputi pengakuan, saat pengakuan dan prosedur pengakuan ditambah cara mengungkapkan (disclosure) merupkan masalah pada tataran sintaktik. Bila laba didefinisi sebagai pendapatan dikurangi biaya, masalahnya adalah kapajn laba timbul sehingga harus diukur dan diakui. Parallel dengan masalah pengukuran pendapatan, terdapat dua criteria atau pendekatan dalam pengukuran laba yaitu pendekatan transaksi (transaction approach) dan pendekatan kegiatan (activities approach).
 Pada tahapan ini, teori ini berusaha menjawab pertanyaan apakah yang harus dipresentasi oleh laba. Seperti teori tentang asset, realitas atau kegiatan entitas yang harus dipresentasi oleh angka laba. Makna yang terkandung dalam laba akhirnya harus diinterprestssi oleh pemakai. Pemaknaan laba secara semantic akhirnya akan menentukan laba secara sintatik yaiitu pengukuran dan penyajiannya. Untuk memberikan makna interpretative kepada accounting income, para kuntan sering meminjam 2 konsep ekonomi sebagai titik tolak yaitu konsep “better-offness” dan “maximation of profit” (dalam keadaan tertentu seperti struktur pasar,demand terhadap barang yang bersangkutan dan input cost). “Better-offness” merupakan bentuk lain daripada konsep profit maximation atau pengukuran efisiensi. Akan tetapi , dengan konsep laba ini sebagai sasaran, bagaimana pengukuran laba masa lalu dapat memberikan dasar untik menentukan efisiensi sebuah perusahaan. Efisiensi adalah suatu istilah yang relative dan hanya mempunyai arti bila dibandingkan dengan yang ideal atau beberapa dasar yang lain.

3.2  Konsep Laba Dalam Sintaksis
            Meskipun akuntasi mendefinisikan pada interprestasi dunia nyata atas laba akuntasi atau dampak perilakunya (baik kemampuan prediktifnya ataupun relevansinya secara umum dalam proses pembuatan keputusan ), mereka umumnya mendasarkan prinsip dan ukuran pada premis yang mungkin tidak berkaitan dengan fenomena dunia nyata atau pengaruh perilaku. Sebagai contoh, sekelompok Studi tentang Tujuan Laporan Keuangan mengatakan bahwa “ penghasilan didasarkan pada ketentuan  dan aturan yang harus logis dan secara internal konsisten, sekalipun itu tidak serasi dengan pandangan para ekonom atas laba “. Ketentuan dan aturan itu dibuat logis dan konsisten yang mendasarkan pada premis dan konsep yang telah dikembangkan dari praktik yang ada. Akan tetapi konsep-konsep tersebut seperti realisasi, pandangan, dasar akrual, dan alokasi biaya dapat didefinisikan hanya dalam pengertian aturan yang tepat, karena hal itu tidak sepadan dalam dunia nyata.
            Akuntan telah menggunakan istilah ini, sehingga mereka cenderung menerima hal itu sebagai mempunyai interprestasi dalam dunia nyata. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa hal itu tidak mempunyai signifikansi diluar peranan terbatsnya dalam logika struktur akuntasi. Tidak adanya signifikansi merupakan satu alasan mengapa banyak mahasiswa mengalami kesulitan. Operating income (Laba Operasi) menunjukan jumlah yang tersisa dari seles setelah dikurangi dari cost of goods sold (Harga Pokok Penjualan), Depreciation (Penyusutan), biaya penjualan dari tahun ke tahun.

3.3  Konsep Laba Dalam Pragmatis
            Tataran pragmatis dalam teori komunikasi berkepentingan untuk menentukan apakah pesan sampai kepada penerima dan mempengaruhi perilaku sebagaimana diarah. Teori akuntasi pragmatis memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi akuntasi. Informasi diharapkan mempunyai pengaruh kalu informasi tersebut benar-benar digunakan oleh para pemakai kerena menurut persepsi pemakai informasi tersebut mempunyai manfaat, kualitas atau nilai informasi.
            Bila dikaitkan dengan laba, tataran ini membahas apakan informasi laba bermanfaat atau apakah informsi laba nyatanya digunakan. Kalau memang digunakan, unuk kepentingan apa inormasi laba digunakan sehingga angka laba benar-benar harus disediakan. Menanyakan langsung kepada pemakai apakah mereka menggunakan angka laba akuntasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui kebermanfaatan laba. Cara lain adalah dengan mengenali bagaimana informasi laba nyatanya digunakan dan dengan mengukur reaksi pasar modal terhadap pengumuman laba akuntasi.

4.      FORECASTING INCOME
            Forecasting adalah meramal atau memperkirakan apa yang akan terjadi dimasa datang berdasar variabel atau kemungkinan yang ada. Potensi dan kelemahan perusahaan diperhatikan dengan seksama. Forecasting dilakukan sebelum perencanaan dibuat. Hasil dari forecasting ini menjadi dasar dalam pembuatan rencana dan diproyeksikan untuk menjadi bahan penjabaran rencana.
            Menurut Study Group on the Objective Financial Statement menyatakan bahwa:“ suatu tujuan dari ikhtisar keuangan adalah memberikan informasi yang factual dan dapat di interprestasikan mengenai transaksi dan kejaidian lainnya yang penting untuk prediksi, pembandingan  dan penilaian mengenai kemauan perusahaan untuk menghasilkan laba”.
            Pernyataan ini juga menekankan pentingnya pengukuran laba berkala untuk membantu pembuat keputusan dalam meramalkan keberhasilan dimasa yang akan datang. Dasar untuk pembuatan pernyataan ini adalah adanya hubungan yang tertulis antara income yang dilaporkan  dengan arus kas (termasuk deviden ) bagi pemilik.

5.      KONSEP PERTAMBAHAN NILAI INCOME (VALUE ADDED)
            Dalam pengertian ekonomi, nilai tambah adalah hasil pasar dari keluaran suatu perusahaan dikurangi harga barang dan jasa yang diperoleh melalui transfer dari perusahaan lain. Jadi semua karyawan, pemilik, kreditor dan pemerintah (melalui pajak) adalah penerima dari laba perusahaan.
            Konsep nilai tambah menjadi berarti apabila diterapkan pada perusahaan yang sangant besar yang mempengaruhi hidup ribuan orang dan mempunyai kepentingan sosial dab ekonomi du luar kepentingan sempit dari pemilik dan pemegang saham. Laba nilai tambah mencakup upah, sewa, bunga, pajak, deviden yang dibayarkan kepada pemegang saham dan penghasilan yang tidak dibagikan dalam konsep ini. Itu tidak harus terhutang kepada pemilik saja, tetapi juga kepada semua penerima atau pengklaim lain dari nilai tambah perusahaan. Hanya dalam kasus liquiditas pemegang saham biasa mempunyai klaim tersisa. Dalam jangka panjang, penahan penghasilan memberikan pertumbuhanpada modal perusahaan yang melalui produktivitas yang meningkat dapat memberikan arus kenaikan laba pada semua penerima. Jika perusahaan itu diasumsikan mempunyai umur yang berkesinambungan atau tak terbatas, pemegang saham mungkin tak pernah menerima manfaat langsung dan satu-satunya dari penahan penghasilan dalam perusahaan.

6.      KONSEP-KONSEP NET INCOME
6.1  Konsep net income pada investor
            Sesuai dengan entity konsep dengan pemegang saham maupun pemberi utang jangka panjang merupakan investor dari permanen capita. Dengan adanya perusahaan antara pemilikan dan pengendalian dalam perusahaan-perusahaan besar, perbedaan antara pemegang saham dan pemegang obligasi tidaklah sepenting pada masa lalu. Perbedaan utamanya sebetulnya hanya terletak pada hak didahulukan dalam pembagian income dan terhadap asset pada waktu liquiditas. Apabila kita meneliti hak didahulukan dalam pembagian income, sering dapat kekaburan antara pemegang obligasi dan pemegang preferred stock. Pemegang income bonds misalnya mempunyai jaminan lebih sedikit mengenai hak didahulukan dalam pembagian income dibandingkan dengan pemegang cumulative preffered stock. Juga pemegang convertible bonds bisa mempunyai hak atas laba yang ditahan melalui konfersi utang menjadi common stock.
            Dalam entity concept, income bagi para investor meliputi bunga utang, deviden bagi pemegang preferred dan common stock, maupun laba yang ditahan. Konsep income ini mempunyai beberapa keuntungan :
1)      Keputusan-keputusan mengenai sumber-sumber long-term-capital bersifat pembelanjaan dan bukan operasional.
2)      Karena adanya perbedaan-perbedaan dalam struktur permodalan perusahaan, maka perbandingan antara perusahaan dapat dilakukan secara langsung dengan konsep income ini.
3)      Rate of return dari total investmen dari konsep ini menggambarkan efisiensi relatif dari pada invested capital secara lebih baik dari pada rate of return to stockholders. 
            Dalam perhitungan net income pada investor ini, pajak penghasilan diperlakukan sebagai expense. Inilah perlakuan yang dianjurkan oleh APB dan kemudian dianut oleh FASB. Ini merupakan posisi yang realities karena pemerintah bukanlah merupakan beneficiary dari perusahaan dalam pengertian seperti para investor. Perusahaan memang menerima manfaat dari pemerintah, namun manfaat ini tidaklah proporsional dengan pajak yang dibayarkan. Bahkan menurut penelitian di Amerika Serikat, pajak penghasilan dapat dibebankan (“passes on”) seperti halnya biaya. Juga para investor maupun manajer kelihatannya mendasarkan kebanyakan keputusan mereka kepada income after tax.

6.2  Konsep net income pada stockholder
            Pandangan yang paling tradisional dan yang paling diterima mengenai net income adalah bahwa net income merupakan return kepada pemilik perusahaan. Meskiun konsep ini berakar kuat pada proprietary approach, banyak pengarang menerapkanya kepada entity approach dan menganggap accounting profit bagi entity sebagai kewajiban terhadap pemilik-pemiliknya. Konsep net income yang diperuntukan bagi semua pemegang saham juga tersirat dalam APB Opinion No 9 dan APB Statement No 4. Study group on the objektiv of financial statements menekankan sifat prediktifnya accounting income, tetapi selanjutnya menyatakan bahwa kemampuan menghasilkan terwujud dari kemampuan perusahaan mencapai tujuan akhir yang beruypa pemberian maximum cash kepada para pemilik-pemiliknya.
            Konsep net income pada stockholders juga mempunyai pendukung ilmu ekonomi. Meskipun definisi laba ekonomi berbeda daripda accounting profit sebagai total return kepada entrepreneurs dalam peranan mereka sebagai manajer, investor, pengambil resiko dan penyewa. Meskipun cara pandangan ini mungkin tidak menguntukan, tetapi sudah merupakan kenyataan bahwa pemakaian laporan akuntasi biasanay mengartikan net income sebagai return to shareholders.

6.3  Konsep net income pada pemegang saham
            Dalam ikhtisar-ikhtisar keuangan yang disajikan khusus bagi pemegang saham dan investor lainnya, net income yang tersedia untuk dibagikan kepada pemegang common stock biasanya dianggap sebagai angka yang terpenting dalam ikhtisar tersebut. Net income per share dan deviden per share untuk common stock dikutip secara luar dalam berita-berita keuangan, disamping haraga-haraga saham. Oleh karena itu ada dukungan yang kuat dari pertimbangan pragmatis ini terhadap konsep income ini.

7.      KONSEP PERILAKU MANAJER TERHADAP INCOME
            Perilaku manajer dikendalikan melalui laba dengan cara mengaitkan kompensasi dengan laba sebagai pengukur kinerja. Pengendalian akan efektif apabila menejer mempunyai persepsi bahwa laba sebagai pengukur kinerja benar-benarlaba yang diakibatkan oleh tindakan atau upaya (action and efforts). Oleh karena itu dalam pengendalian menajemen terhadap berbagai tingkat laba dengan berbagai sebutan sebagai pengukur kinerja manajer.
            Pengendalian manajemen menuntut adanya kontrak-kontrak internal yang memerlukan berbagai tingkat laba akuntaswi sebagai unsure kesepakatan. Jadi secara pragmatic laba akuntansi memang digunakan oleh manajemen. Hal ini member indikasi bahwa laba akuntasi bermanfaat untuk kepentingan atau kontrak internal.

8.      TUJUAN PELAPORAN NET INCOME
            Tujuan utama pelaporan net income adalah untuk memberikan informasi kepada mereka yang menaruh minat pada laporan keuangan. Tetapi kita harus memperinci tujuan-tujuan tertentu sebelum kita memperoleh pengertian tentang pelaporan income. Salah satu dari tujuan dasar mengasumsikan bahwa yang paling penting bagi semua pemakai laporan adalah keutuhan untuk membedakan invested capital dan income-perbedaan antara stock dan flows-sebagai bagian dari proses deskriptifnya akuntansi.
            Tujuan yang lebih khusus meliputi pemakaian income sebagai pengukuran efisiensi manajemen, pemakaian angka-angka historical income untuk membantu meramalkan masa depan perusahaan atau deviden diwaktu yang akan dating, dan pemakaian income sebagai keberhasilan dan pedoman mengenai keputusan-keputusan manajerial dimasa yang akan dating. Yang tidak akan dibahas adalah income sebagai dasar pengukuran pajak, penggunaan income sebagai cara untuk mengatur perusahaan dimana kepentingan umum terlibat, dan pemakaian angka-angka income oleh para ahli ekonomi untuk mengevaluasi allocation of resources.

Minggu, 11 Desember 2011

KONSEP ELEMEN-ELEMEN NERACA

Berikut adalah elemen – elemen secara eksplisit yang diidentifikasi  FASB, antara lain:
1.      Aset
2.      Kewajiban
3.      Ekuitas atau asset bersih
4.      Investasi oleh pemilik
5.      Distribusi ke pemilik
6.      Laba komprehensif
7.      Pendpatan
8.      Biaya
9.      Untung
10.  Rugi

Penjelasan:
1       Aset ( assets ) adalah manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu.
2       Utang ( liabitilies ) adalah pengorbanan manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa mendatang yang berasal dari kewajiban sekarang suatu entitas untuk mentrasfer aset atau menyerahkan jasa pada entitas lain dimasa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu.
3       Ekuitas ( equity ) adalah hak sisa (residual interest) atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan utang. Dalam perusahaan bisnis, ekuitas sama dengan hak pemilik.
4       Investasi oleh pemilik ( investment by owners ) adalah kenaikan aset neto suatu perusahaan yang berasal dari transfer entitas lain ke perusahaan tersebut atas sesuatu yang bernilai untuk memperoleh atau meningkatkan hak kepemilikan (atau ekuitas) dalam perusahaan tersebut.
5       Distribusi pada pemilik ( distribution to owners ) adalah penurunan aset neto suatu perusahaan yang berasal dari transfer aset, penyerahan jasa, atau penambahan utang oleh perusahaan kepada pemilik.
6       Laba komprehensif ( comprehensive income ) adalah perubahan ekuitas (aset neto) suatu entitas selam satu perioda yang berasal dari transaksi atau peristiwa dan kondisi lainnya dari sumber yang bukan berasal dari pemilik.
7       Pendapatan ( revenue) adalah aliran masuk kenaikan aset suatu entitas atau penurunan utang suatu entitas (atau kombinasi keduanya) selama satu perioda, yang berasal dari pengiriman atau produksi barang, penyerahan jasa, atau pelaksanaan kegiatan lainnya, yang merupakan kegiatan utama perusahaan secara terus menerus.
8       Biaya ( expenses ) adalah aliran keluar atau pemakaian aset suatu entitas, atau penambahan utang suatu entitas (atau kombinasi keduanya) selama satu perioda, yang berasal dari pengiriman atau produksi barang, penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan secara terus menerus.
9       Keuntungan ( gains ) adalah kenaikan ekuitas (aset neto) dari transaksi insidentil suatu entitas dan berasal dari semua transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas dalam satu perioda diluar transaksi yang berasal dari pendapatan dan investasi oleh pemilik.
10  Kerugian ( losses ) adalah penurunan ekuitas (aset neto) dari transaksi insidentil suatu entitas dan berasal dari semua transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya yang mempengaruhi entitas dalam satu perioda diluar transaksi yang berasal dari biaya dan distribusi pada pemilik. 

Neraca
Neraca adalah laporan keuangan yang menggambarkan posisis keuangan perusahaan dalam suatu tanggal tertentu atau a moment of time, atau sering juga disebut per tanggal tertentu misalnya per tanggal 31 Desember 2009. Posisi yang digambarkan adalah posisi harta, utang dan modal.

Komponen Neraca

Harta
Menurut APB Statement (1970, halaman 132) mendefinisikan asset sebagai berikut :
“kekayaan ekonomi perusahaan, termasuk didalamnya pebebanan yang ditunda, yang dinilai dan diakui sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku”.
Menurut FASB (1985) memberikan definisi sebagai berikut :
“asset adalah kemungkinan keuntungan ekonomi yang diperoleh atau dikuasai dimasa yang akan dating oleh lembaga tertentu sebagai akibat transaksi atau kejadian yang sudah berlalu”.

Pengakuan dan Penilaian Aktiva 
Prinsip yang berlaku sekarang dalam pengakuan dan penilaian aktiva sesuai dengan yang digariskan APB adalah sebagai berikut.
“Pencatatan aktiva berdasarkan pada kejadian kapan perusahaan mendapatkan kekayaan atau aktiva itu dari pihak lain sedangkan kewajiban kapan muncul kepada pihak lain. Penilaian keduanya didasarkan pada nilai tukar, nilai pengorbananpada pengalihan terjadi. Nilai ini disebut acquisition cost”.
Dalam hal pengorbanan yang diberikan adalah aktiva bukan uang (nonmoneter), nilai yang dipakai adalah harga pasar barang yang diserahkan. Disamping nilai pertukaran ini atau historical cost, dalam prinsip akuntansi dikenal juga bebagai nilai yang sering dipakai dalam penilaian aktiva. Nilai ini adalah :

1.      Book value adalah nilai buku yang diperoleh dari harga perolehan aktiva dikurangi dengan akumulasi penyusutan.
2.      Replacement cost adalah nilai barang yang dimaksudkan jika diganti dengan barang lain yang sama.
3.      Selling price adalah harga jual.
4.      Net realizable value adalah harga jual dikurangi dengan biaya penjualan atau dikurangi dengan tingkat margin yang normal.

Nilai tersebut diatas sering dianggaptidak konsisten dengan konsep teori pengukuran yang murni. Beberapa metode penilaian asset yang digambarkan oleh Wolk, dkk sebagai berikut :

Piutang : Taksiran nilai net realizable value

Investasi : Cost, lower of cost or market (LOCOM) atau market (tergantung jenis investasi), metode equity.

Persediaan barang dagang : Cost, replacement cost, net realizable value atau net realizable value dikurangi mark up normal.

Aktiva tetap : Full absorption costing untuk perusahaan dan kapitalisasi bunga untuk yang bukan perusahaan

Pertukaran aktiva non sejenis : Cost, alokasi cost dan nilai buku.

Nilai buku asset lama ditambah dengan kas yang sejenis diberikan.

Aktiva tak berwujud : Nilai buku

Pembebanan ditunda : Nilai buku

Kewajiban / Hutang (Liabilities)

Menurut FASB kewajiban adalah kemungkinan pengorbanan kekayaan ekonomis dimasa yang akan datang yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk masa yang akan datang sebagai akibat dari suatu transaksi atau kejadian ekonomi yang sudah terjadi.
Beberapa istilah dalam kewajiban :
1.      Contractual liabilities adalah kewajiabn yang didukung oleh perjanjian tertulis.
2.      Constructive obligation adalah kewajiban yang tidak dinyatakan secara tertulis, misalnya pembayaran cuti atau bonus tertentu.
3.      Equitable obligation adalah kewajiban yang tidak dikuatkan kontrak atau hanya karena kewajiban moral atau kewajiban demi kewajaran atau keadilan.
4.      Contigent liabilities adalah suatu situasi atau keadaan yang menggambarkan ketidakpastian apakah mungkin menimbulkan keuntungan atau kerugian kepada perusahaan, dimana hanya dapat dipastikan apabila suatu kejadian atau beberapa kejadian dimasa yang akan datang terjadi atau tidak.
5.      Deffered credit adalah sejenis kewajiban tetapi bukan dalam pengertian memberikan pengorbanan dimasa yang akan datang. Deffered credit ada dua jenis :
a.      Prepaid revenue adalah penerimaan dimuka yang belum sepenuhnya diimbangi dengan pemberian jasa atau produk yang dibayar.
b.      Deffered revenue akibat pengakuan pendapatan, misalnya adalah investment tax credit dan laba rugi dari transaksi leaseback. 

6.      Executory contract adalah perjanjian yang belum dilaksanakan, tetapi kita sudah terikat dengan perjanjian baik untuk memenuhi kewajiban dimasa yang akan datang maupun yang akan menerima kekayaan atau jasa dimasa yang akan datang. Misalnya adalah kontrak pembelian dimasa yang akan datang dimana perusahaan harus menyediakan barang dimasa yang akan datang – kontrak pekerjaan dalam pegawai dimana perusahaan harus membayar gaji dimasa yang akan datang.

Pengakuan dan Penilaian Kewajiban 
Menurut APB Statement No.4 serta SFAC No. 5 kewajiban dinilai sebesar kejadian dalam transaksi, biasanya jumlah yang akan dibayarkan di masa yang akan datang biasanya didiskontokan (dinilai berdasarkan Present Value – untuk yang jangka panjang), sejumlah nilai pertukaran atau sejumlah nilai nominal.

Modal 
Modal adalah suatu hak yang tersisa atas aktiva suatu lembaga (entitiy) setelah dikurangi kewajibannya.
Perusahaan perseroan perlu membedakan antara modal setor dengan modal karena pendapatan (retained earning). Deviden hanya dibayarkan dari laba yang ditahan bukan dari laba yang disetor.

Modal setor (contributed capital) dapat dibagi menjadi :

1. Modal statuter (legal capital)
2. Modal lainya

Modal statuter adalah jumlah batas kewajiban pemilik. Modal ini dinilai berdasarkan harga pari atau harga nominal. Dalam modal ini terdapat modal lain seperti agio saham, modal donasi, modal dari pengeluaran kembali treasury stock, stock option dan sebagainya.

Didalam pos modal terdapat akun lain seperti laba ditahan dan cadangan. Laba ditahan terdiri dari laba tahunan, penyesuaian atau koreksi tahun sebelumnya dan besaran deviden. Komponen dari modal saham ini adalah laba rugi yang belum direalisasi. Sedangkan cadangan adalah sesuatu yang disimpan untuk maksud dan tujuan tertentu.

Pengakuan dan Penilaian Modal
Penilaian terhadap transaksi modal ini sama dengan penilaian pada harta dan kewajiban yaitu berdasarkan harga pasar pada saat terjadinya transaksi.dalam hal pencatatan modal saham harus dipisahkan nilai parinya dengan nilai jualnya. Laba ditahan dicacat sebagai akumulasi laba dari tahun-tahun sebelumnya.

Bentuk Neraca
Neraca biasanya diurutkan berdasarkan akun atau perkiraan yang likuiditasnya paling tinggi. Biasanya perkiraan yang paling lancar dan paling dekat dengan konversi ke kas dicacat paling atas. Kewajiban yang paling cepat harus dibayar dicacat paling atas dan modal yang harus ditunaikan terlebih dahulu harus ditempatkan dipaling atas.
Dalam menyajikan neraca dapat dibagi dalam tiga bentuk berikut ini :

1. Staffel atau report form
Dalam bentuk ini neraca dilaporkan dalam satu halaman vertical. Disebelah atas aktiva dan dibawahnya passive.

2. Skontro atau T-Account Form
Aktiva disajikan disebelah kiri (kecuali di Inggis disajikan di kanan) dan kewajibannya disebelah kanannya.

3. Bentuk yang menyajikan posisis keuangan (Financian Position Form)
Dalam bentuk ini neraca dilaporkan dengan format, pertama-tama dicantumkan aktiva lancar dikirangi dengan hutang lancar sehingga menghasilkan modal kerja ditambah dengan aktiva tetap dan aktiva lainnya kemudian dikurangi hutang jangka panjang, maka diperoleh modal pemilik.

Penyajian Neraca Menurut Standar Akuntansi
Laporan keuangan harus disusun secara sistematik agar pengguna laporan keuangan tersebut dapat mengerti maksud dan isi dari laporan keuangan tersebut.
Komponen-komponen neraca sebagai berikut :

AKTIVA :

 Aktiva lancar
-
 Investasi- 
 Aktiva tetap-
 Aktiva tidak berwujud-
 Aktiva lain-lain-

KEWAJIBAN :
 Kewajiban lancar
-
 Kewajiban jangka panjang-
 Kewajiban lain-lain-

MODAL
 Modal saham
-
 Agio saham-
 Laba ditahan-

Penyajian diatas merupakan pencerminan dari klasifikasi lazim pos neraca sebagai berikut :
a. Aktiva diklasifikasikan menurut urutan likuiditasnya.
b. Kewajiban diklasifikasikan menurut urutan jatuh temponya.
c. Modal diklasifikasikan berdasarkan sifat kekekalannya.
Perkiraan lawan (offsets/contra account) atau pos neraca tertentu disajikan sebagai unsur pengurang dari beberapa akun dalam neraca. Contohnya akun akumulasi penyusutan disajikan sebagai pengurang dari harga perolehan aktiva, cadangan kerugian piutang disajikan sebagai pengurang akun piutang usaha dll